Studentpreneur | Media Bisnis | Ide Bisnis | Bisnis Anak Muda

Uncategorized

Profil Nadiem Makarim sang Pendiri Gojek


Tanpa Nadiem Makarim, Go-Jek tidak akan bisa sesukses sekarang.

Menurut App Annie, Go-Jek digunakan oleh 10 juta pengguna setiap minggunya. Di Play Store, aplikasi Go-Jek sudah diunduh setidaknya 40 juta kali. Dominasi Go-Jek memang tidak bisa dielakkan, di Jakarta sendiri ketika kamu berada di lampu merah, setidaknya kamu akan melihat 2-3 pengendara sepeda motor yang mengenakan jaket hijau dengan tulisan Go-Jek.

Di balik kesuksesan Go-Jek tersebut, terdapat satu nama yang sangat berjasa mengembangkan Go-Jek sampai sekarang. Dia adalah Nadiem Makarim, co-founder dan CEO GoJek ini merupakan orang yang membangun Go-Jek dari 20 driver hingga sekarang mempunyai 250 ribu driver. Tidak hanya itu, Go-Jek baru saja mendapatkan investasi baru dari Farallon Capital Management sebesar 550 juta dolar atau sekitar 7,2 triliun rupiah.

Tidak sedikit orang yang menganggap Nadiem Makarim ini mendirikan Go-Jek dengan cara instan, mendapatkan investor kemudian menggunakan semua uangnya untuk merekrut driver. Padahal di balik semua pencapaian Go-Jek sekarang, Nadiem sebagai pendiri gojek sangat bersusah payah meyakinkan para warga Jakarta, ojek dan investor bahwa Go-Jek adalah teknologi yang tepat diaplikasikan di Indonesia. Simak sedikit profil Nadiem Makarim berikut ini.

 

Perjalanan Nadiem Sebagai Pengalaman yang Berbuah Manis

Nadiem Makarim sangat beruntung lahir dan besar di lingkungan yang berkecukupan. Nadiem mengenyam pendidikan yang sangat baik di Jakarta, Singapura sampai Amerika Serikat. Nadiem menamatkan SMA di Singapura dan kemudian melanjutkan studi S1 di Brown University Amerika Serikat. Setelah lulus S1, Nadiem juga langsung bekerja di salah satu perusahaan survey terbesar di dunia yaitu McKinsey. Di sana Nadiem bekerja selama 3 tahun, kemudian memutuskan untuk melanjutkan studi masternya di Harvard Business School sebagai Master of Business Administration (MBA).

Tidak semua orang Indonesia bisa melanjutkan studi master di Harvard Business School. Setelah lulus dari Harvard di tahun 2011, Nadiem langsung direkrut oleh Oliver Samwer, salah satu pendiri dari Rocket Internet. Ketika itu Rocket Internet sedang mengembangkan pasar di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Profil Nadiem Makarim langsung dipercaya sebagai Managing Director di Zalora Indonesia. Bekerja di Zalora, Nadiem mendapatkan pengalaman pertama bekerja di sebuah startup, bagaimana cara menjalankan perusahaan yang dirintis dari awal.

 

Mengembangkan Go-Jek dari Tahun 2009

Mungkin kamu tahu bahwa Go-Jek ini didirikan di tahun 2011, itu tidak salah karena Nadiem benar-benar serius mengembangkan Go-Jek di tahun 2011. Tetapi sebenarnya Go-Jek ini didirikan oleh Nadiem pertama di tahun 2009. Ketika itu Nadiem ikut program Young Leaders for Indonesia, Nadiem membuat proyek Go-Jek dengan 1 call center dan 20 driver. Karena keterbatasan dana dan sumber daya, 20 driver tadi pun merangkap menjadi marketing dan recruiter.

Pada saat melakukan studi master di Harvard, keberuntungan menaungi Nadiem. Di sana dia bertemu dengan Anthony Tan (sekarang CEO Grab), yang menjadi sahabat sekaligus teman diskusi untuk mengembangkan bisnis. Tan ternyata memiliki mimpi yang sama dengan Nadiem sang pendiri gojek, sama-sama ingin mengembangkan transportasi berbasis teknologi di masing-masing negaranya (Tan warga Malaysia). Nadiem mengatakan ketika itu Tan ingin membuat taksi bisa lebih terorganisir di Malaysia dan Nadiem ingin mengembangkan ojek di Indonesia.

Setelah keluar dari Zalora, Nadiem sempat menjadi Chief Innovation Officer di startup Kartuku. Dari situ, Nadiem kenal dengan banyak investor yang kemudian menjadi jembatan sebagai investor Go-Jek. Salah satu investor pertama yang percaya dengan Go-Jek adalah NSI Ventures.

Foto-Nadiem-Makarim

Nadiem Makarim adalah orang dibalik kesuksesan Go-Jek. Photo credit: Katadata

Kesulitan dalam Mengembangkan Go-Jek

Pada tahun 2009, Nadiem mengetahui bahwa untuk mengedukasi masyarakat dan juga driver tentang mudahnya menggunakan Go-Jek mengunakan teknologi sangatlah sulit. Pada tahun tersebut, harga smartphone masih cukup mahal, hanya beberapa orang saja yang mempunyai smartphone canggih. Dari situ profil Nadiem Makarim bersama 2 co-founder, Jurist Tan dan Brian Cu tetap sabar untuk melihat penetrasi pasar.

Setelah mendapatkan investasi di tahun 2011, Go-Jek melakukan penambahan market besar-besaran. Banyak driver yang terdaftar dan pengguna mulai naik secara signifikan. Tetapi uniknya, ternyata dari sekian banyak orang yang menggunakan Go-Jek sebesar 85% penggunanya banyak memesan makanan. Setelah melalui riset yang sangat panjang, pada tahun 2015 Go-Jek merilis layanan Go-Food untuk pertama kalinya. Tidak sekedar layanan pesan antar makanan biasa, Go-Jek ketika itu sudah bekerja sama dengan 15 ribu restoran di seluruh Jakarta.

Nadiem mengatakan dia dan timnya tidak asal dalam mengembangkan Go-Jek. Dirinya selalu mengedepankan data dan analisis dalam mengambil keputusan. Mulai dari Go-Food, aplikasi untuk pengguna dan aplikasi untuk driver selalu dikembangkan dengan berbasis data dan analisis. Sampai sekarang, walaupun aplikasi Go-Jek bisa dibilang sudah cukup baik, minimal setiap bulan Go-Jek pasti akan mengeluarkan update atau inovasi terbaru. Terakhir adalah kerja sama Go-Jek dengan liga sepak bola tertinggi di Indonesia. Terobosan ini yang dinilai menjadi salah satu yang terbaik di tahun 2017. Liga Indonesia yang hampir diselenggarakan di seluruh kota besar di Indonesia, tentu akan menjadi alat promosi yang baik untuk Go-Jek.

Itulah profile Nadiem Makarim punya mimpi yang sangat tinggi. Di Indonesia, Nadiem ingin Go-Jek tidak hanya dikenal dengan ojek online atau Go-Food saja. Nadiem sebagai CEO gojek ingin semua orang bisa menggunakan Go-Jek sebagai alat transportasi, termasuk mengalahkan Uber. Sebagai karya anak bangsa, tentu Nadiem wajar mempunyai mimpi yang besar tersebut. Dengan investasi yang sangat besar, Nadiem berencana mengeluarkan terobosan lain di tahun 2017 ini. Menarik ditunggu.

Yuk follow facebook Studentpreneur dan ikutan kelas online-nya buat belajar bisnis lebih lanjut.

Rekomendasi Kelas Online Studentpreneur Gratis Untuk Anda:

Dasar-Dasar Marketing dari Tung Desem Waringin

Cara Mencari Investor Untuk Startup Baru

Menjalankan Startup dengan Metode Lean Startup

 

Dior Asning Kosyu

Bercita-cita menjadi pemain basket, kini Dior berubah profesi menjadi jurnalis yang ingin memperbaiki Indonesia melalui tulisannya.

Facebook Twitter Google+