Studentpreneur | Media Bisnis | Ide Bisnis | Bisnis Anak Muda

Uncategorized

Pebisnis, Jangan Sampai Logo Perusahaan Anda Seperti Mereka


Internet menganggap logo baru Hershey kelihatan seperti tinja. Serius.

Logo baru Hershey baru saja keluar. Dan reaksi internet, katakanlah kurang apresiatif. Beberapa opini populer justru menganggap bahwa logo baru Hershey sama sekali tidak menjustifikasi asosiasi brand mereka dengan cokelatnya yang terkenal enak itu.

Kata mereka dalam sebuah pernyataan dalam blog desain Brand New, pergantian logo ini adalah upaya mereka untuk menciptakan sebuah “interpretasi yang fresh dan modern”. Mereka mengupas cokelat Hershey’s Kiss dari pembungkus silvernya dan menyisakan cokelat solid dengan sebuah tali berwarna abu-abu menggantung di atasnya yang menunjukkan ciri khas dari kemasan yang terkenal ala Hershey.

“Branding baru ini akan berdampak pada semua aspek visual tentang bagaimana Hershey menampilkan diri,” kata mereka dalam sebuah pernyataan di Business Wire. “Dari mulai komunikasi konsumen hingga website dan desain interior kantor dan tampilan toko pengecer kami.”

logo-hersey

Segera saja, komentar-komentar pedas mulai bermunculan. Mayoritas menyebut logo baru ini seperti “steaming pile of shit”. Mashable menyebut logo baru ini hampir mirip dengan emoji poop yang terkenal, minus bola mata.

Ya atau tidak, barangkali ini adalah tantangan bagi bisnis yang berani mendekati rebranding di era sosial seperti sekarang. Membuat logo perusahaan bukan lagi hal yang mudah. Banyak pertimbangan yang harus dipikirkan sebelumnya.

Hershey bukanlah satu-satunya yang dihantam badai komentar miring. Bulan lalu, Airbnb mengumumkan logo baru mereka. Internet panen besar. Logo mereka jadi bulan-bulanan pengguna Tumblr karena dianggap mirip dengan organ seksual wanita.

Jadi, bagaimana desain anda bisa lolos dari hukuman mati Internet?

Gregory Ciotti, seorang pakar desain dan marketing strategist memberi saran yang menarik tentang cara membuat logo perusahaan: “When designing a logo, first comes personality, then color”.

Pada dasarnya, sebuah bisnis perlu untuk mempertimbangkan kepribadian mereka lebih dulu sebelum memilih warna. “Anda tidak bisa memilih warna seenaknya. Tentu saja Anda harus memilihnya berdasarkan kepribadian merek yang ingin Anda sampaikan ke publik,” katanya. “Ketika menyusun logo, Anda perlu mencari petunjuk kontekstual yang memperkuat alasan Anda memilih sebuah warna.”

Hal ini berbanding terbalik dengan kebiasaan entrepreneur yang akan mencari warna dulu. Padahal, sebelum mempertimbangkan warna, ada sebuah elemen penting yang harus dipertimbangkan, yakni “perceived appropriateness” atau kelayakan sebuah logo untuk dipersepsikan dengan benda lain. Tampaknya, elemen inilah yang kurang di logo baru Hershey dan Airbnb. Jadi, bagaimana menurut Anda dengan logo baru Hershey? Mari berdiskusi di kolom komentar! Anda juga bisa mendapatkan informasi bisnis anak muda kreatif melalui Facebook atau Twitter Studentpreneur.

 

Artikel Bisnis Terpopuler Hari Ini:

The Newbies 1: Anak SMA Ini Meraup Puluhan Juta Rupiah Dari Toko Sepatu Online

The Newbies 2: Sewakan Kamera, Gadis 16 Tahun Hasilkan Jutaan Rupiah Per Bulan

Mau Main Saham Dengan Modal Hanya 1 Juta Rupiah?

Taufik Aditama

Wartawan senior Studentpreneur yang ingin berkeliling dunia dan membuat Indonesia lebih baik

Facebook Twitter Google+